Pencarian

Kamis, 12 Januari 2012

Perintah Berpikir

Setiap manusia lahir ke dunia ini dalam keadaan tidak mengetahui apapun. Nama benda, nama ibu, nama bapak, nama tempat, nama Pencipta, cara berpakaian, cara berkomunikasi, cara berjalan, dan berbagai hal menyangkut hidup lainnya yang tidak diketahui. Tak satupun manusia yang sudah memiliki berbagai pengetahuan sejak saat dilahirkan. Sekalipun demikian, karena Allah SWT sayang pada hamba-Nya, Dia Zat Maha Kuasa memberikan potensi kepada setiap insan hingga mampu mengetahui, berpikir dan ujungnya bersyukur. Firman Allah SWT menjelaskan hal ini :
وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا أَمْرُ السَّاعَةِ إِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ١٦:٧٧

"Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur".(Q.S. An-Nahl [16] : 78)
Imam Ibnu Katsir (Tafsir ul Qur'an il Azhim, Ibnu Katsir, Jilid II, halaman 105) menjelaskan pengertian ayat ini bahwa Allah SWT telah menjadikan manusia tidak mengetahui apapun saat mereka dilahirkan dari perut ibunya. Setelah itu, Allah SWT memberi mereka pendengaran untuk dapat menangkap suara dan penglihatan yang dapat mengindra berbagai pandangan, dan af'idah, yakni akal yang pusatnya di hati (qolbun), atau otak. Akal itulah yang dapat membedakan berbagai benda yang bermanfaat dan mudharat. Kekuatan dan indra ini terus berkembang pendengaran, penglihatan dan akalnya hingga pada usia baligh. Allah SWT menciptakan berbagai perangkat ini semata agar manusia dapat menjadi penyembah Allah Zat Maha Tinggi. Hal ini ditegaskan dalam hadits qudsi :
"Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku sungguh ia memproklamirkan perang kepada-Ku. Tidak ada satupun cara hamba-Ku mendekati Aku lebih utama daripada menunaikan apa-apa yang Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku yang selalu mendekati-Ku dengan melaksanakan nawafil (perkara sunah) niscaya Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya niscaya Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Sungguh bila ia meminta kepada-Ku niscaya Aku memberinya; bila ia berdoa kepada-Ku niscya Aku kabulkan; bila ia berlindung kepada-Ku niscaya Aku lindungi". (H.R. Bukhari).
Hadits ini bermakna bahwa seorang hamba saat ia memurnikan ketaatan jadilah semua perbuatannya unutk Allah Zat Maha Gagah Perkasa sehingga tidaklah ia mendengar untuk Allah , dan tidaklah ia melihat untuk Allah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar